.:: knipdee W O R L D! ::.

Archive for the ‘Parent Guide Tips’ Category

Akhirnya kesampaian juga mampir ke The Playground…Yeaaaayy…Kayaknya lebih semangat saya daripada Syuja. Abis udah lama banget pengen ngajak Syuja ke The Playground. Browsing-browsing soal The Playground juga udah dari kapan tahun deh. Awalnya masih bingung mau ke The Playground atau Prefere 72, tapi setelah tanya sana sini, pilihan saya jatuh pada The Playground.

Beberapa hari sebelum ke The Playground, saya udah cerita terus ke Syuja, bahwa nanti disana kita main perosotan, main air. Jadi pas tiba hari ‘H’ ke The Playground, Syuja juga semangat banget. Berhubung dari rumah ke The Playground jauh, saya berharap Syuja tidur di perjalanan, biar pas nyampe dia seger. Dan Syuja pun tidur…zzzzzzz…

Berbekal dari googling, saya udah prepare jalan masuk ke The Playground. Setelah muter-muter akhirnya sampai juga. Suasananya yang sejuk, dan ga terlalu ramai, langsung buat saya suka banget. Awalnya Syuja yang baru bangun, gamau turun dari gendongan bapaknya. Tapi setelah mengamati suasana dan sedikit rayuan, akhirnya mulai deh tombol ‘ON’ nya nyala. Lari kesana kemari, kayaknya bebaaaaas bangeet. Pas mau naik perosotan tinggi, Syuja masih ragu, dan takut. Tapi pas nyoba sekali, gamau berhenti deh, girang banget dia. Saya juga terkagum-kagum, ternyata Syuja berani coba permainan yang menurut saya agak rentan jatuh untuk anak seumur dia. Seperti arti namanya Syuja yaitu Pemberani:).

Permainan di area kering, lebih dulu dicoba Syuja. Dari jam 2 siang sampe jam stengah 4, Syuja mencoba berbagai macam permainan, ayunan, jungkat jungkit, flying fox, dan tentu favorit dia, perosotan. The Playground juga menyediakan area bermain yang isinya pasir beneran, Syuja asyik bermain disitu, ditemani oleh sepupunya Kaka Gabie, yang lebih dulu menjadi penggemar The Playground. Mainan untuk pasir juga disediakan disini, jadi ga perlu repot bawa dari rumah.

Akhirnya tibalah saatnya bermain air. Saya cukup mengamati dari jauh, karena gamau baju basah…hehehe…Jadi bapa nya yang nemenin. Tetep yang dia pilih mainan perosotan dulu. Oh ya jangan khawatir anak terjatuh di The Playground, karena lantainya dialasi karpet karet, dan di perosotan air juga disediakan matras. Ternyata karena Kemang lebih banyak dihuni oleh warga negara asing, jadi yang datang ke The Playground juga kebanyakan juga bule-bule. Berasa di luar negeri deh:). Di area permainan air ini, juga ada permainan bola, lebih tepatnya mandi bola kali ya namanya. Syuja ga bisa deh kalo ga liat bola, langsung dia betah disitu. Tapi diajak ke arena yang airnya keluar dari lantai, Syuja gamau, malah ketakutan…mungkin karena airnya muncul keatas dan masuk-masuk mata.

Karena waktu itu bulan puasa, kami juga berencana jam 5 sore udah jalan pulang, pesen tempat buat buka puasa. Jadi jam stengah 5 sore, Syuja udah mandi, dan siap-siap pulang. Eh tapi abis mandi, dia maen lagi di area kering. Ya udah akhirnya aku tunggu ampe jam 5, biar dia puas.

Bagi umat muslim, jangan khawatir, The Playground juga menyediakan mushola mini dan tempat wudhu yang bersih untuk kita beribadah. Recommend banget deh The Playground. Saya dan suami pun menjadwalkan sebulan atau dua bulan sekali mampir The Playground. Harga tiket masuk juga bersahabat di kantong,  Rp. 65.000,- per anak kecil, sepuasnya, dan yang nganter ga usah bayar.

Saat seperti ini, saat yang paling bahagia buat saya, main dan kumpul dengan suami dan anak, tanpa orang lain. Ngeliat anak ketawa-ketawa juga buat saya selalu bersyukur.

Silahkan dicatat alamatnya bagi yang mau mampir ke The Playground, Jl. Kemang Dalam IIIB/B6, Jakarta Selatan. Telepon 021-7196962. Yang baru pertama kali kesana, sering-sering nanya ke orang-orang yang di pinggir jalan ya. Biar ga kesasar.

Selamat menikmati waktu yang sangat berharga dengan keluarga anda:)…..

Yoghurt

Posted on: July 1, 2011

Mendengar kata Yoghurt..langsung terbayang rasa asem, manis dan gurih yang lumer di lidah. Sebenarnya saya bukan penggemar Yoghurt, tapi gara-gara adik dan mamah saya yang sangat ‘freak’ dengan Yoghurt, akhirnya saya pun mulai menyukai susu yang dibuat melalui fermentasi bakteri ini. Manfaat Yoghurt yang luar biasa, membuat saya menularkan kegemaran minum Yoghurt kepada jagoanku Syuja. Menurut dokter nya Syuja, Yoghurt juga bagus untuk anak alergi (Syuja alergi seafood). Syuja doyan banget ama Yoghurt, kalo udah makan bisa abis satu sendiri.

Manfaat Yoghurt memang sangat bagus untuk tubuh kita, tak terkecuali untuk anak kita. Penelitian modern membuktikan yoghurt diteliti mengandung probiotik atau bakteri bermanfaat salah satunya Lactobacillus Bulgaricus, sehingga ada juga yang menduga bahwa yoghurt diciptakan pertama kali di Bulgaria. Selain bakteri tersebut, di dalam yoghurt juga dapat mengan-dung bakteri bermanfaat lainnya seperti streptococcus yang berbentuk bulat (Streptococcus thermophilus).

MANFAAT DARI YOGHURT :

Susu asam ini bermanfaat untuk banyak hal, di antaranya:

1. “Membersihkan” usus

Bakteri asam laktat yang terdapat dalam yoghurt di usus besar mampu menyerap zat mutagenik dari makanan, sehingga secara tak langsung dapat “membersihkan” usus. Dengan minum atau makan yoghurt secara teratur akan membantu mencegah kanker usus. Apalagi yoghurt juga menghasilkan zat-zat yang diperlukan oleh hati sehingga berguna untuk pencegahan penyakit kanker. Selain itu, bakteri Lactobacillus Bulgaricus juga memiliki efek antitumor dan dapat meningkatkan kekebalan tubuh terhadap tumor.

2. Sebagai antibiotik

Ada zat bermanfaat yang dihasilkan oleh bakteri Lactobacillus Bulgaricus, disebut bulgarikan. Zat ini berfungsi sebagai antibiotik spesifik yang hanya membersihkan mikroorganisme yang merugikan saja. Bakteri “jahat” yang dihambat antara lain Staphylococcus aureus, Shigella dysentriae (penyebab disentri), Salmonella typhii (penyebab tipus), Clostridium botulinum (penyebab botulinum, yaitu keracunan makanan kaleng), juga mencegah sembelit. Umumnya sehabis menjalani pengobatan dengan antibiotik, dokter menganjurkan pasien minum yoghurt. Tujuannya untuk memulihkan keseimbangan mikroflora usus.

3. Menurunkan kolesterol

Yoghurt terbukti mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah karena di dalamnya terkandung zat antikolesterol yang mampu menghambat kerja enzim pembentuk kolesterol. Ditambah lagi kolesterol yang terbentuk juga diserap oleh pertumbuhan bakteri Lactobacillus acidophilus dan bakteri Bifidobakterium bifidum. Penyerapan ini terjadi di usus kecil dan membantu mengurangi kolesterol dalam darah.

4. Masker

Sejak berabad silam wanita Persia menggunakan yoghurt untuk masker yang bermanfaat mengurangi dan menghilangkan keriput. Sampai saat ini pun manfaat ini masih bisa dirasakan. Caranya: sediakan 1/2 gelas yoghurt tawar dan 5 tetes air jeruk lemon. Campur kedua bahan tersebut, lalu oleskan pada wajah, biarkan selama beberapa saat sampai masker mengering dan kulit terasa kencang. Setelah itu bersihkan wajah dengan air dingin, lalu keringkan dengan handuk bersih. Masker yoghurt juga dipercaya menghilangkan noda hitam di wajah.

5. Nutrisi untuk diet

Kandungan gizi yoghurt sangat tinggi bahkan lebih tinggi dibandingkan susu segar. Dalam yoghurt terkandung kalori, protein, karbohidrat, kalsium dan potasium lebih tinggi dibandingkan susu segar, tapi kan-dungan lemaknya lebih rendah, sehingga cocok bagi mereka yang sedang menjalankan program diet rendah kalori.
Sumber: http://thekingfood.blogspot.com/2010/11/manfaat-yoghurt.html

Hidup sehat dengan Yoghurt:)

ASI

Posted on: June 22, 2011

Alhamdulillah saya berhasil memberikan Syuja ASI selama 2 tahun. Senangnya:)..Saya dan suami memang sudah berniat dari semenjak saya hamil, bahwa saya akan memberikan Syuja ASI hingga 2 tahun. Perjuangan saya dalam memberikan ASI tidak mudah, ada saja cobaannya.

Setelah melahirkan ASI saya keluar sangat sedikit sekali, saya coba memompa dalam 1 jam hanya keluar 10 hingga 20 ml. Sedihnya hati saya. Syuja pun kalau menyusu lama sekali, dan baru selesai menyusu ga sampai beberapa menit dia minta lagi. Pokoknya Syuja nempel terus sama saya, sampai saya kurang waktu untuk beristirahat.

Segala hal saya coba mulai dari makan daun katuk, minum obat penambah ASI, tapi tetap saja ASI saya sedikit. Hampir saja saya memberikan susu formula, tetapi dukungan dari suami tercinta dan teman-teman membuat saya kembali termovitasi terus memberikan ASI. Salah satu motivasi dari teman saya ‘Bani Sukmanandia’ yang membuat saya berhasil memberikan ASI hingga 2 tahun. Bani berkata bahwa kita sebagai ibu harus positive thinking dan yakin pada diri kita, bahwa berapapun banyaknya ASI pasti cukup dan membuat anak kita sehat.

Intinya adalah jangan dipusingkan oleh banyak atau sedikitnya ASI, tapi kita sebagai Ibu harus yakin bahwa ASI yang diminum oleh anak kita cukup untuk dia. Saya pun menanamkan pada pikiran dan hati saya, bahwa ASI saya pasti cukup untuk Syuja. Positive thinking berhasil membuat Syuja tidur nyenyak, sehat, gendut dan yang terpenting ASI saya pun banyak. Yeaaaay…

Mungkin saat ASI saya sedikit, tanpa disadari saya stres dan tentu berdampak pada produksi ASI saya. Apalagi buat ibu baru seperti saya, yang masih belum berpengalaman. Puas rasanya, berhasil memberikasn ASI selama 2 tahun. Walaupun saya bekerja, tapi itu tidak menghambat saya dalam memberikan ASI. Pompa memompa pun saya lakukan setiap hari di kantor. Hasilnya tidak sia-sia. Syuja tumbuh sehat, cerdas dan jarang sakit. Saya pun tetap langsing, karena lemak di sekitar panggul dan paha yang ditimbun pada masa kehamilan pindah ke dalam ASI. Jadi be positive, yakin pada diri kita sendiri dan jangan panik..stay calm. Say Goodbye Susu Formula..Say Hi to ASI..

sumber :
http://www.ibuhamil.com/new_design/lihat_artikel.php?id=116&asal=1

Tanda-Tanda Persalinan

Proses persalinan berbeda-beda pada tiap individu, namun ada beberapa tanda
yang dapat membantu ibu untuk memperkirakan kapan waktu persalinan tiba.
Tanda palsu

Selama kehamilan, ibu akan merasakan kontraksi rahim (mulas, kram perut)
yang lemah dan tidak teratur, yang disebut kontraksi Braxton Hicks.
Kontraksi tersebut tidak menyebabkan lahirnya bayi.
Menjelang persalinan akan terjadi kontraksi otot-otot rahim yang menyebabkan
bayi lahir, ini disebut His.
His pada bulan terakhir kehamilan akan terjadi beberapa kali, namun perlu
diperhatikan apakah his tersebut merupakan his palsau (his pendahuluan) atau
his persalinan.

Ciri-ciri his palsu adalah :
a. Tidak teratur, tidak menyebabkan nyeri di perut bagian bawah dan lipatan
paha.
b. Tidak menyebabkan nyeri memancar dari pinggang ke perut bagian bawah.
c. Lama kontraksi pendek dan tidak begitu kuat, bila dibawa berjalan
kontraksi biasanya menghilang.
d. Tidak bertambah kuat seiring dengan bertambahnya waktu.
e. Tidak ada pengaruh pada pembukaan mulut rahim.

Ketika mulai terjadi kontraksi, setiap timbul catatlah frekwensinya,
kekuatan, lamanya kontraksi tersebut. Gunakan stopwatch atau jam tangan yang
ada detiknya.

Tanda-tanda bahwa persalinan mulai berlangsung

Kontraksi yang berkala lama dan kekuatannya.
Lamanya 45 – 75 detik
Kekuatan kontraksi : semakin lama akan bertambah kuat. Saat mulas, jika kita
menekan dinding perut dengan telunjuk akan terasa perut mengeras.
Interval kontraksi : akan bertambah sering, permulaan 10 menit sekali,
kemudian menjadi 2 menit sekali.
Pecahnya kantung ketuban
Keluarnya bercak darah bukan petunjuk akurat ibu akan segera melahirkan.
Namun ibu perlu waspada terhadap hal tersebut, jika perdarahan banyak, ibu
perlu segera ke rumah sakit tanpa perlu menunggu hingga kontraksi yang
terjadi mulai teratur dan bertambah kuat kekuatannya.

Kapan pergi ke rumah sakit ?

Yang pasti, datang lebih awal akan lebih baik daripada datang terlambat.
Pergi ke rumah sakit terlalu cepat akan membuat ibu lebih cemas, karena itu
disarankan baru pergi ke rumah sakit setelah ada mulas yang teratur 10 menit
sekali atau adanya tanda-tanda bahaya (lihat di bahasan tanda-tanda bahaya).

Waspadai tanda-tanda bahaya sebelum persalinan

Ketuban pecah dini
Normalnya ketuban pecah beberapa saat sebelum melahirkan. ”
Jika sebelum tanggal perkiraan persalinan ibu telah merasa keluarnya cairan
dalam jumlah banyak dari kemaluan (pecahnya ketuban), segeralah ke rumah
sakit, karena ketuban pecah dini meningkatkan risiko terjadinya infeksi.
Perdarahan
Perdarahan pada kehamilan lanjut (usia kehamilan = 20 minggu) meskipun
sangat sedikit dapat merupakan ancaman bagi ibu dan janin. Ibu perlu segera
mendapatkan pertolongan di rumah sakit.

Pergerakan Janin Berkurang
Berkurang atau hilangnya pergerakan janin dapat merupakan suatu tanda gawat
janin yang dapat berakhir dengan kematian janin. Karena itu sebaiknya ibu
mengerti cara menghitung pergerakan janin dalam satu hari, dan segera ke
dokter jika menduga pergerakan janin berkurang.

Pemantauan pergerakan janin harus sudah dimulai sejak awal, yakni sejak inu
merasa pergerakan anak, karena ibu sendirilah yang paling tahu dan mungkin
mendeteksi kesehatan janinnya, biasakan memperhatikan gerakan anak setiap
hari, dianjurkan untuk memperhatikannya pada malam hari, saat itu janin
sedang “bangun”.
“Fetal Kick Count”, menghitung tendangan janin, menghitung gerakan janin.

Caranya :
Ibu berbaring (malam hari) dan menghitung gerakan janin selama 20 menit.
Janin yang sehat akan bergerak lebih dari 5 kali dalam 20 menit. Apabila ini
terjadi, Insya Allah janin ibu akan baik selama 24 jam berikutnya, sehingga
dengan memantau gerakan janin ibu dapat memprediksi kesehatan janin
setidaknya 24 jam ke depan. Apabila janin bergerak kurang dari 5 kali dalam
20 menit, segera hubungi rumah sakit dimana dokter ibu bekerja untuk
mendapatkan pemantauan yang lebih akurat dengan cara Non Stress Test
(NST/Uji tanpa beban)

Tekanan Darah Meningkat
Tekanan darah meningkat tanpa pemeriksaan tensi darah sulit diketahui,
tetapi apabila ibu merasa bengkak pada kaki yang tidak hilang setelah
diistirahatkan, bengkak pada punggung tangan, bengkak pada kelopak mata atau
bagian tubuh lainnya, segera hubungi dokter/rumah sakit karena kemungkinan
ibu terancam preeklamsi (keracunan kehamilan).

child’s sense of self-worth is a major factor in deciding your child’s future. How they feel about themselves will affect their choice of friends, how they get along with others, and how they develop their potential. Their self-esteem influences all aspects of their lives.


Your child’s self-esteem is a precious thing and should be handled with great care. It is crucial for your child’s healthy development and future well being. It is also has a great deal to do with how your child behaves now and later.

Here some helpful hints to foster a sense of self-worth while protecting a child’s self-esteem:

See negative behavior in the context of who your child is.

Focus only on changing behavior that is important to change, i.e. behavior that isolates or harms him/her or disrupts the family. You don’t need and should not want to change everything about your child to fit your “specs.” Again, your job is to make your child feel valuable and build self-esteem.

Use the language of self-esteem.

Describe the behavior without judging the child so that you distinguish between the child’s worth and his/her behavior. Describing behavior gives him/her accurate feedback about actions and how actions affect the child and others. By not labeling a child as good or bad, you separate appraisals of behavior from basic value or worth.

Share the reasons behind your reactions. It is easier for children to meet expectations and/or avoid conflict when they understand why you react they way you do. Validate your child’s experience so that he/she feels seen and understood as a worthy person even when behavior is being corrected.

Praise without overpraising to build self-esteem.

Praise is what gives children the message that they are accepted and appreciated. They learn to praise themselves and recognize and value their own efforts and talents. On the other hand, overpraise creates pressure to be the “smartest, best, most wonderful kid ever,” a set-up for eventual failure.

Avoid backhanded praise. This mixes praise and insult.

Say, “I’m glad you got it done,” instead of, “It’s about time.”

Try, “You look good in blue,” instead of, “I’m glad you are wearing something besides all that black you and your friends like.”

Discipline and set limits to build self-esteem.

Children who are not disciplined can not grow up with high self-esteem. They tend to feel more dependent and also feel that they have less control over their world.

Children will run into disapproval and cruelties in the world. They need the physical and emotional protection of rules and limits to grow self-esteem.

When you give your child acceptance and he/she can see you really see, value, and appreciate him/her, you have provided armor against drugs, unhealthy relationships, and delinquency.

The more you praise your child, the more self esteem your child will have. This is correct, isn’t it?

Not necessarily. Kids have a way of knowing if they have truly earned your acclaim or if you are manipulating them.

Moreover, children can even be confused by excessive praise.

Example: you call your son a “genius.” He thinks:

* “Does anyone else feel that way about me?”
* “It’s too much work to be a genius.”
* “She knows I’m not a genius.”

Example: your unrealistic praise is way out of line. Your child knows he is not that good. He wonders what you want or discounts much of your praise as being ridiculous.

Example: to cheer your daughter on, you don’t mention the difficulties (or much of the truth) about her performance in soccer. She does not make the team and is crushed out of proportion primarily because you told her there was nothing to making the team.

If you want to be accurate as well as being complimentary, practice these steps:

1. Explain that your child has done well and can do even better next time.

2. Don’t answer a statement of dissatisfaction with praise. Instead, acknowledge the feelings shown and help your child plan for a better performance next time.

Remember that the best praise for your children is praising their own judgment.

Of course, that can’t always happen. Sometimes their judgment, or society’s judgment as mirrored in their eyes, is not the best action or accomplishment to praise.

Example: your six-year-old daughter spends much too much time in front of a mirror. She’s cute. You know it and she knows it. However, the mirror needs a rest and your daughter certainly needs to know there is more to life than appearance. Yet your daughter and all children need to know their looks are acceptable.

So what do you say when you find your daughter staring away at her reflection?

Try saying, “You look nice today, Letha, but I am really proud of your gymnastics (drawing, etc.) this morning. How did you do that so well?”

Proper Discipline Adds Self-Esteem.

The importance of seeing and accepting your child as he/she is can’t be stressed enough in order to foster their self-esteem. There are other factors that contribute to self-esteem in children. The two most important of these factors are discipline and setting limits for your kids.

Children who are not disciplined, who do not have limits, can not grow up with high self-esteem. They tend to be more dependent and feel that they have less control over their world. Kids, just like adults, are more confident when they feel they have control.

Children will run into disapproval and cruelties in the world. They need the physical and emotional protection of rules and limits for self-esteem.

Use positive discipline. Children who are disciplined with only negative consequences or through negative talk may learn to behave but they often do it with a grudge against parents and with little internal self-esteem.

Gear discipline toward the age of your child. Your child at two needs a different kind of discipline that he/she will at five, ten, and fifteen years of age. In fact, each additional year of age will have you giving up control of your child’s life to your child. Letting your child control his/her life in a manner suitable to age, is one more way to grow self-esteem.

In addition, school age children transfer more and more allegiance from their family to their peer group each year. By the time your child is a young teen-ager you will have powerful competition from the peer group. That is the way it will be, like it or not. At this point your prior discipline should lead your teen-ager to self-control.

A young teen also needs independence. Teen-agers rarely need as much independence as they want, but they do need an increasing opportunity to make their own decisions, and yes, even their own mistakes. The less willing you are to grant some independence to your teen, the more likely he or she is to rebel and take that independence anyway.

Independence means they leave home before age 40! And this is good…

Use the Language of Self-Esteem.

Language is a powerful esteem builder. If fact, it can build or destroy self-esteem.

There is a “language” of self-esteem.

Correct children using the language of self-esteem. Use the words “decide” and “choice” often. Stress the consequences of choices. Discuss the behavior, not the child.

Criticism lowers self-esteem while having choices and control raises self-esteem.

Don’t say, “You didn’t wash the dinner dishes again. You always live like a dirty person.”

To use the language of self-esteem, follow these steps when correcting children (always remembering that you want your child to think he/she is a valuable person):

1. Describe the behavior in nonjudgmental language such as, “The dishes are still in the sink.”

2. Give a simple, to-the-point reason for the behavior change such as, “I need clean dishes for dinner tonight.”

3. Acknowledge the child’s feelings, motive, or situation by saying something like, “I know you want to see Tommy again today.”

4. Using clear language, provide a statement of what is expected such as, “I want the dishes clean by 6 o’clock this afternoon.”

5. State a clear consequence for not completing your request such as, “If you choose to leave the dishes dirty after six tonight, you are deciding to stay home alone this entire week-end.”

Always stress to your children that life is a series of choices. No one is responsible for their choices, decisions, and actions but the child.

Utilize the words “choose” and “decide” to get this message across using the language of self-esteem. Discuss the action, not the child.

When your son decides to keep playing with Tommy and he decides to leave the dishes in the sink past the five o’clock deadline, he also made a decision to stay home for the week-end. His choice, his decision, his consequence. His increased self-esteem which you have bolstered using the language of self-esteem.

Rule of Three in Discipline and Self-Esteem.

Unless something is threatening the safety of your child, never try to get across more than three discipline points at any one particular time in his/her life.

Why?

1. It is hard to develop self-esteem when you constantly hear the word “no.”

2. Consistency in discipline is all important. It is easier to be consistent when focused on fewer discipline situations.

Choose three habits or situations that need discipline in your child and work on those until you feel each discipline situation is under control. As each discipline situations is under control, you add another discipline. If you try to “fix” everything at once, you will constantly be saying “no.” Again, a constant “no” is NOT the way to build self-esteem in children.

When you choose your three situations to discipline, be careful to choose situations that benefit the child rather than making you feel or look good.

Another important factor of the rule of three involves consistency. Nothing is more important for making discipline work and thus, building self-esteem than consistency. It is possible to be consistent about three discipline situations. It is almost impossible to be consistent about ten discipline situations. You are human!

Try to avoid needing discipline while building self-esteem. One way to do this is to promote a feeling of success by letting your child know what to expect in any new situation. Well-explained events become adventures rather than scary trips into the unknown. Confident children need less discipline. Successful adventures and new situations keep adding to self-esteem.

Teach your children the skills necessary for success. Set your kids up for success. Children were not born knowing how to make the bed, write a report, or set the table. When they do these chores incorrectly, that is not the time for discipline. Rather it is time for a self-esteem-building lesson.

Be patient. Allow time for them to go slowly in new situations. A few small, slow steps avoid the need for discipline while adding self-esteem now and later.

Make it safe to fail. Praise your child’s willingness to try rather than praising the result of the first attempt. Then she will be more likely to try again or accept a new challenge.

When a child faces something new and succeeds, her self-esteem grows. If, most of the time, he hears, “yes” or “try it,” his self-esteem grows.

Keep remembering to focus on changing behavior that harms your child. You don’t change things about your child to make him/her conform to your “specs.”

William Sears, M.D., and Martha Sears, R.N., in their book The Discipline Book write, “No discipline book would be worth its price without a section on self-esteem. Yet we fear that parents misunderstand the meaning of this concept and feel that this is one more thing they are required to give their child along with regular meals and a warm winter jacket. They guard against anything that may undercut self-esteem–to the point where it becomes ridiculous.”

They continue, “You can’t build your child’s self-esteem compliment-by-compliment, activity-by-activity.”

The authors feel parents are already overloaded with guilt because they may not be doing enough to foster self-esteem. They conclude, “You don’t need a degree in psychology to raise a confident child. Much of parenting is easy and fun. Hold your baby a lot, respond sensitively to her needs, enjoy your baby. Then sit back and enjoy the person whose self-esteem is developing naturally.”

http://www.namaislami.com/Children/Positive-Parenting-Tips-2.html”


July 2017
M T W T F S S
« Sep    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Inspiring Blog

The Urban Mama

Travel Blog

hubby tweet

my tweet

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.